Laman

Jumat, 17 Juni 2011

SPERMA ANALISA



TUJUAN :
Untuk menganalisa pemeriksaan semen (seperti: volume, warna, bau, konsistensi, dll) dan karakteristik morfologi/kemampuan fungsional dari konstituen spermatozoa, dengan memperhatikan kualitas stabilitas semen. Analisa sperma umumnya digunakan untuk studi infertilitas, studi postvasektomi, diagnosa azoospermia, oligospermia dll.

PRINSIP PEMERIKSAAN :
Secara Makroskopis : warna, bau cairan semen diamati serta dilakukan pengukuran liquefaksi, pH, viskositas dan pengukuran volume dilakukan paling akhir minimal setelah proses pemeriksaan motilitas dilakukan (untuk mengurangi resiko kontaminasi dari tabung kerucut/gelas ukur dengan mengestimasi banyaknya sperma yang telah digunakan).
Secara Mikroskopis : Aduk cairan semen secara perlahan sampai homogen dan amati adanya spermatozoa, motilitas, aglutinasi, dan jumlah spermatozoa. Setelah dibuat pengecatan preparat amati marfologi, leukosit serta viabilitas spermatozoa

METODE : Makroskopis dan Mikroskopis
METODE REFERENCE: -

SAMPEL :
 Jenis : Cairan semen (mani/ejakulat)
 Jumlah : Semua ejakulat yang dikeluarkan (tidak boleh ada yang tumpah)
 Stabilitas : Dalam 1 jam pada suhu kamar sejak dikeluarkan, dengan puasa seksual 2-7 hari
 Catatan :
 Semua persyaratan sampel yang tidak terpenuhi, sebaiknya ditolak kecuali ada permintaan atau persetujuan dari klinisi/pasien
 Untuk hasil azoospermia setelah dilakukan pemutaran >3000g selama 15 menit. Tuliskan pada HPsL di kolom Catatan: dianjurkan untuk dilakukan pengulangan sampel dengan menggunakan sampel baru, dengan jarak waktu antara 1 minggu - <3 minggu, kecuali untuk keterangan klinis pasca vasektomi atau sebelumnya sampel sudah pernah dilakukan pengulangan dengan sampel baru, maka tidak perlu diberi catatan. Untuk proses pemantauan pengobatan, jarak waktu pengulangan sample disesuaikan dengan permintaan dokter.  Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat pemeriksaan sperma adalah suhu ruang kerja > 200 – 40o C dan kondisi ruang kerja harus bersih, bebas debu serta tidak menimbulkan bau yang menyengat, contoh: pengharum ruangan, alkohol dan lain lain. Hal ini dapat mengganggu pemeriksaan motilitas sperma.

REAGEN :
 Pengecatan preparat
 Giemsa (Romanovsky-Giemsa)
 Aquabidest
 Metanol p.a
 Kertas pH : 6.5 - 10.0 (Katalog: 9543) atau bila pH > 10 pergunakan kertas pH 0-14 (Katalog 1.09533.000.1)
 NaCl 0.9%
 Larutan pengencer jumlah spermatozoa disiapkan oleh Perbekalan Pusat
 Eosin 0.5% disiapkan oleh Perbekalan Pusat

KONTROL : -

KALIBRATOR : -

ALAT :
 Kamar hitung Improved Neubauer
 Mikroskop
 Objek glass
 Deck glass 22 X 22 mm
 Pipet ukur 5,0 mL
 Stop watch
 Tabung reaksi
 Batang Pengaduk
 Gelas ukur / tabung kerucut kaca
 Mikro pipet

LANGKAH KERJA/PROSEDUR PEMERIKSAAN
DAN PARAMETER YANG DILAPORKAN
1. DATA SAMPEL
Tuliskan jam pengumpulan, jam penerimaan dan jam pemeriksaan sampel. Cara pelaporan :
 Jam Pengumpulan : 07.30
 Jam Penerimaan : 07.40
 Jam Pemeriksaan : 08.10
Keterangan : Jam pemeriksaan di catat pada saat mengerjakan pemeriksaan motilitas
2. TERTAMPUNG
A. Interpretasi hasil
 Lengkap : Jika semua sampel tertampung pada wadah.
 Tidak Lengkap : Jika tidak semua sampel tertampung pada wadah (tumpah sebagian)
B. Cara Pelaporan
Tuliskan kondisi dari sampel tersebut
Contoh : Lengkap

3. CARA PENGELUARAN
A. Cara Pengeluaran : Masturbasi, Coitus interuptus, kondom atau lainnya
B. Cara Pelaporan : Tuliskan cara mengeluarkan sperma dari pasien. Contoh : Masturbasi
C. Catatan : Cara pengeluaran sampel yang dianjurkan adalah masturbasi

4. WADAH (tempat penampungan sample sperma)
A. Wadah : gelas atau plastik disposable yang memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh TQA Pusat.
B. Cara Pelaporan : Tuliskan tempat (wadah) dari sampel. Contoh : Wadah plastik yang memenuhi persyaratan untuk sperma
Keterangan : wadah plastik yang distandardisasi oleh T-QA Pusat dan dianjurkan menggunakan wadah disposable.


5. PUASA SEKSUAL (ABSTINENSIA)
A. Puasa seksual yang dimaksud adalah berapa lama tidak melakukan hubungan seksual/tidak mengeluarkan sperma atau waktu terakhir sperma dikeluarkan
B. Nilai normal : 2 - 7 hari
C. Cara Pelaporan :Tuliskan berapa hari pasien tidak berhubungan seksual. Contoh : 3
Catatan :
 Bila abstinensia < 2 hari atau > 7 hari, beri catatan di HPsL
 Pada saat pasien mimpi basah, berarti pasien tidak dihitung sebagai waktu abstinensia/puasa seksual (karena ada sperma yang dikeluarkan)

6. PEMERIKSAAN MAKROSKOPIS
SEMUA PARAMETER ANALISA SPERMA DIKERJAKAN SETELAH TERJADI LIQUEFAKSI SEMPURNA
Jika sampai 1 jam belum terjadi liquefaksi sempurna, maka pemeriksaan boleh dikerjakan, dengan diberi catatan pada HPsL " Pemeriksaan dilakukan pada sampel yang belum liquefaksi sempurna "
A. VOLUME
Dikerjakan paling akhir dengan memperhitungkan volume sample yang telah digunakan untuk pemeriksaan.
 Nilai Normal : Volume : > 2.0 mL
 Cara Kerja : Volume semen diukur dengan menggunakan gelas ukur kaca atau tabung sentrifuse kaca (dasar kerucut) yang berskala 0,1 mL.
 Cara pelaporan : Tulis volume yang ditunjukkan pada tabung kerucut/gelas ukur kaca dan dinyatakan dalam mL. Contoh : 2.0 mL
Catatan : Jika volume sampel kurang dari 2 mL, disarankan untuk mengulang penampungan sample (bila memungkinkan). Bila tidak memungkinkan sampel tetap dikerjakan dan parameter yang diperiksa disesuaikan dengan jumlah sampel.

B. BAU
 Nilai Normal : Bau : Khas
 Interpretasi Hasil
• Khas : Jika bau seperti bunga akasia
• Tidak Khas : Jika bau tidak seperti bunga akasia
 Cara Pelaporan : Sebutkan bau dari sampel. Contoh : Khas

C. WARNA
 Nilai Normal : Warna : Putih keabu-abuan atau kelabu pucat
 Interpretasi Hasil
• Putih keabu-abuan/kelabu pucat : jika jumlah spermatozoa normal
• Putih Jernih : Jika jumlah spermatozoa sedikit
• Coklat : Jika ada eritrosit
• Kuning : Jika pasien ikterus atau minum vitamin
 Cara Pelaporan : Sebutkan warna dari sampel yang dilihat. Contoh : Putih keabu-abuan

D. pH
 Nilai Normal : pH : 7.2 – 7.8 (Reff. WHO Ed. 3)
 Cara Kerja :
• Teteskan setetes sampel diatas kertas pH dan sebarkan secara merata
• Setelah 30 detik bandingkan warna yang terjadi dengan kertas standard dari kertas pH
• Baca pH dari sampel tersebut.
 Cara pelaporan: Tulis pH yang ditunjukkan oleh kertas pH. Contoh : 7.0

E. LIQUEFAKSI ( PENCAIRAN )
 Nilai Normal : Mencair maximal dalam waktu 60 menit
 Cara Kerja :
• Biarkan sperma dan tunggu sampai terjadi liquefeksi sempurna.
• Siapkan stop wacth (jam), tunggu selama 20 menit kemudian homogenkan sampel dengan cara memutar-mutarkan wadah sampel secara manual untuk mengurangi kesalahan (jangan diaduk-aduk). Bila diperlukan homogenisasi dapat dilakukan dengan menggunakan batang pengaduk kaca.
• Catatan : homogenisasi sample tidak boleh dilakukan dengan menggunakan benda tajam/runcing, seperti: tip pipet
 Interpretasi Hasil
• Normal : Sampel mencair maximal ≤ 60 menit
• Abnormal : mencair > 60 menit
 Cara Pelaporan : Tuliskan waktu lamanya proses pencairan. Contoh : 20 menit

F. VISKOSITAS
 Nilai Normal : < 2 cm .  Cara Kerja : Viskositas dapat dikerjakan dengan menggunakan batang pengaduk kaca atau pipet 5.0 mL  Dengan pipet 5.0 mL • Sperma yang telah homogen diisap secara perlahan dengan pipet 5.0 • Dengan posisi tegak lurus biarkan sperma menetes karena gaya berat . • Ukur panjang dari benang tetesan tersebut.  Dengan batang pengaduk • Masukkan batang pengaduk kaca ke dalam wadah sampel • Tarik batang pengaduk dan ukur panjang benang yang terbentuk pada saat batang pengaduk ditarik  Cara pelaporan : Tulis berapa cm benang tetesan yang terbentuk (Lihat pada lampiran 3). Contoh : 1,5 cm  Catatan : Jika didapatkan sampel sangat encer, sehingga tidak terbentuk benang, maka laporkan < 1 cm 7. PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS Dalam 1 sediaan dapat dilakukan pemeriksaan untuk :  Motilitas  Aglutinasi  Jumlah perkiraan spermatozoa. Cara kerja :  Ambil masing-masing 10 uL sampel yang sudah homogen dan buat 2 sediaan dalam 1 kaca obyek  Tutup masing-masing sediaan dengan kaca penutup ukuran 22x22 mm atau 20x20 mm, biarkan 1 menit  Cek penyebaran sperma di masing-masing sediaan.  Bila penyebaran sperma sudah tampak merata dalam lapang pandang di masing-masing sediaan, lihat perkiraan jumlah sperma pada ke-2 sediaan (contoh: perkiraan jumlah sperma di sediaan 1 dan sediaan 2 tidak boleh berbeda jauh (Lihat tabel pada lampiran2). Jika terjadi perbedaan jumlah sperma/LP berbeda jauh, lakukan homogenisasi sample dan ulangi No. 1- 4)  Periksa sediaan dengan pembesaran 400X. Lakukan pembacaan untuk motilitas, pengamatan terhadap adanya aglutinasi dan pencacahan jumlah spermatozoa. A. MOTILITAS  Kategori hasil : • Bergerak cepat dan maju lurus • Bergerak lambat atau sulit maju lurus • Bergerak di tempat • Tidak bergerak  Nilai Normal : A + B : > 50% dan/atau A : > 25%. Contoh : A = 35% + B = 30% atau A = 30% + B = 10%
 Cara Kerja :
• Sediaan yang sudah dibiarkan 1 menit
• Periksa dibawah mikroskop dengan pembesaran 400X
• Amati motilitas dari spermatozoa dan cek penyebaran sperma seluruh lapang pandang untuk memastikan homogenisasi sampel. Hitung motilitas minimal dalam 200 sperma (semakin banyak sperma yang dihitung semakin baik).
• Contoh pemilihan area sepeti pada gambar :


• Semua spermatozoa dengan kategori A dan B dihitung terlebih dahulu, baru kemudian kategori C dan D pada lapang pandang yang sama.
• Jumlah spermatozoa untuk semua kategori dihitung sampai mendapatkan jumlah min. 200 spermatozoa, kecuali bila jumlah spermatozoa sangat sedikit maka hitung sperma dalam seluruh lapang pandang.
• Pemeriksaan dilakukan Duplo dengan membuat 2 sediaan, dan hitung rata-ratanya
• Catatan: Jumlah ke-2 perhitungan tersebut untuk tiap kategori tidak boleh melebihi selisih yang diperbolehkan (Lihat tabel pada Lampiran 2)
• Buat prosentasi tiap kategori dari motilitas spermatozoa untuk masing-masing sediaan :
% motilitas sperma = Jumlah masing-masing kategori motilitas x 100 %
Total sperma
Contoh : Bila ditemukan 20 sperma D dalam 210 sperma :
% D = 20/210 x 100% = 9.5 %
 Cara Pelaporan : Tulis prosentasi untuk masing-masing kategori dan catat pada lembar kerja ( LKj )
Contoh hasil pembacaan 2 siapan :
Siapan Kategori (%)
A B C D
I 50 20 20 10
II 20 20 30 30
Jumlah 70 40 50 40
Selisih 30 0 10 20
Selisih yang diijinkan (Tabel) ≤ 16 ≤ 12 ≤ 14 ≤ 12

Dari data diatas , pada kategori A dan D terdapat perbedaan lebih dari selisih yang diperbolehkan pada tabel Lampiran 1, maka harus dibuat 2 sediaan baru dan interpretasikan hasilnya kembali.
Contoh hasil 2 sediaan baru adalah :
Siapan Kategori (%)
A B C D
I 50 20 20 10
II 40 20 30 10
Jumlah 90 40 50 20
Selisih 10 0 10 0
Selisih yang diijinkan (Tabel) ≤ 19 ≤ 12 ≤ 14 ≤ 9

 Contoh pelaporan :
• A : 45 % ( rata-rata dari 50 + 40 )
2
• B : 20% ( rata-rata dari 20 + 20 )
2
• C : 25% ( rata-rata dari 20 + 30 )
2
• D : 10% ( rata-rata dari 10 + 10 )
2

B. AGLUTINASI
Yang disebut aglutinasi adalah spermatozoa motil (sperma yang masih dapat bergerak) yang saling melekat satu dengan yang lainnya/bergerombol (bisa kepala dengan kepala, bagian tengah dengan tengah, ekor dengan ekor atau campuran) di mana dalam 1 gerombol ditemukan minimal 5 spermatozoa yang bergerak.
 Nilai Normal : Negatif
 Cara Kerja : Diamati bersamaan pada saat mengerjakan motilitas (Lihat minimal dalam 10 lapang pandang secara acak).
 Interpretasi Hasil
• Negatif : Jika tidak ada aglutinasi
• Positif (+1) : terdapat 1 – 2 kelompok
• Positif (+2) : terdapat 3 – 5 kelompok
• Positif (+3) : terdapat > 5 kelompok
 Cara pelaporan : Negatif atau Positif. Contoh : (+1)

C. KONSENTRASI SPERMATOZOA
Pencacahan jumlah spermatozoa dengan Hemositometer (Tabel Pengenceran).
Jumlah sperma
kotak sedang < 10 sperma 10 – 40 Sperma > 40 Sperma
Pengenceran Dihitung
25 kotak Dihitung
10 kotak Dihitung
5 kotak
1 : 4 20 8 4
1 : 9 10 4 2
1 : 19 5 2 1
1 : 49 2 0.8 0.4
Pengenceran 1 : 19 biasanya dilakukan sebagai pengenceran awal.
 Cara Kerja
• Aduk sampel dengan batang pengaduk sampai homogen.
• Lakukan pengenceran awal sampel dengan pengenceran 1 : 19
• Siapkan bilik hitung ”Improved Neubauer” dan kaca penutup. Kemudian teteskan sampel yang sudah diencerkan dari salah satu sisi kaca penutup.
• Amati penyebaran spermatozoa, bila tidak merata ulangi No. 3. Bila spermatozoa yang diperoleh terlalu banyak ulangi dengan pengenceran yang lebih tinggi, dan bila terlalu sedikit ulangi dengan pengenceran yang lebih rendah.
• Hitung semua jumlah spermatozoa.
• Bidang yang dipakai adalah kotak besar (tengah) yang terdiri dari 25 kotak sedang (R).
• Perhatikan cara penghitungan sesuai dengan yang tertera pada tabel pengenceran :
 Hitung rata-rata spermatozoa pada kotak sedang (tengah) :

 Jika didapat <10 sperma dalam kotak sedang, hitung sperma dalam 25 kotak sedang atau buat pengenceran baru dengan pengenceran yang lebih rendah, contoh : 1:9.  Jika didapat 10-40 sperma dalam kotak sedang, hitung sperma dalam 10 kotak sedang  Jika didapat >40 sperma dalam kotak sedang, hitung sperma dalam 5 kotak sedang atau buat pengenceran baru dengan pengenceran yang lebih tinggi, contoh: 1:49.
 Contoh cara pembacaan (untuk menghindari sperma dihitung 2X) : Untuk kepala yang letaknya menyinggung garis tengah batas pemisah 2 bidang sebelah kiri dan atas di mana ekornya masih masuk ke dalam kotak pembacaan, maka sperma harus dihitung. Sedangkan untuk kepala sperma yang menyinggung garis tengah batas sebelah kanan dan bawah, maka sperma tidak ikut dihitung.
 Perhitungan jumlah spermatozoa dilakukan pada kedua sisi kamar hitung ( atas dan bawah/Duplo ) dan dibuat rata-ratanya serta ditulis di Lembar Kerja ( LKj ).
 Untuk menentukan jumlah spermatozoa dalam 106/mL, bagilah jumlah rata-rata sperma dengan faktor konversi yang sesuai dengan tabel pengenceran diatas. Untuk melihat perbedaan hasil Duplo dari ke-2 pemeriksaan, gunakan tabel pada Lampiran 2: Contoh : Jumlah rata-rata spermatozoa pada masing-masing bilik adalah 247 dan 213.
Jumlah total = 460, selisih = 34.
Selisih yang diperbolehkan berdasarkan tabel harus < 42  perhitungan ini dapat dilanjutkan jika didapat perbedaan atau selisih lebih dari yang tercantum dalam tabel, maka perhitungan harus diulang dengan melakukan homogenisasi sampel terlebih dahulu .  Catatan: Jika tidak ditemukan spermatozoa : • Buat sediaan baru dan lakukan pemeriksaan oleh Analis yang berbeda (dengan mencantumkan min. 2 nama Analis yang mengerjakan pada LKJ). • Lakukan konfirmasi kepada Branch Operation Supervisor terkait. • Bila hasil sediaan tetap tidak ditemukan spermatozoa, putar semua sampel dengan kecepatan > 3000 g (lihat konversi gavities ke rpm pada Lampiran 1) selama 15 menit
• Periksa kembali apakah ditemukan/tidak spermatozoa.
• Jika tetap tidak ditemukan (setelah disentrifuge), maka hasil sperma langsung dikeluarkan sebagai Azoospermia dengan memberikan catatan HPsL : Disarankan untuk melakukan pengulangan sampel dengan menggunakan sampel baru, dengan jarak waktu antara 1 minggu - ≤ 3 minggu
• Laporkan hasil Analisa Sperma sebagai Azoospermia. Untuk status pasien pasca vasektomi/sebelumnya sudah pernah dilakukan pengulangan dengan sampel baru, beri catatan pada HPsL : sampel sudah diulang
• Tulis :
 Pada kolom kesimpulan " Azoospermia"
 Di pelaporan makroskopis: konsentrasi dan jumlah ditulis “0” (nol)
• Jika setelah disentrifuge didapatkan beberapa spermatozoa, laporkan hasil sebagai cryptozoospermia dengan catatan pada HPsL: motilitas dan konsentrasi tidak dikerjakan karena jumlah sperma sangat sedikit (lihat contoh HPsL untuk cryptozoospermia).
 Nilai Normal : > 20 juta /mL
 Cara Pelaporan : Sebutkan jumlah spermatozoa yang didapat dari perhitungan kamar hitung. Contoh (lihat Tabel Pengenceran) :
 Pengenceran : 1:19
 Rata-rata per kotak sedang : 10 - 40 sperma
 Jadi kotak sedang yang dihitung : 10 kotak
 Jumlah spermatozoa yang didapat : 162 & 170
 Rata-rata jumlah spermatozoa : 166
 Lihat faktor pada tabel pengenceran : 2
 Jadi konsentrasi spermatozoa : 166 : 2
 Konsentrasi spermatozoa : 83 106/mL
• Untuk menghitung jumlah, lakukan perhitungan konsentrasi sperma X volume ejakulat. Contoh :
 Konsentrasi sperma = 83 106/mL
 Volume ejakulat = 5.0 ml
 Jumlah = 83 X 5.0 = 415 106/ejakulat
D. VITALITAS ( VIABILITAS )
Pemeriksaan vitalitas/viabilitas dilakukan jika jumlah spermatozoa yang tidak bergerak (tidak motil) > 50%
 Nilai normal : Vitalitas : > 75%
 Cara Kerja (Sediaan basah) :
• Campur sampel supaya homogen
• Ambil 1 tetes sampel + 1 tetes Eosin 0,5%, aduk rata diatas obyek glass
• Tutup dengan kaca penutup dan biarkan selama 30 detik
• Lihat dibawah mikroskop dengan pembesaran 400X, hitung dalam 200 spermatozoa, kecuali jika jumlah spermatozoa sangat sedikit maka dapat dihitung dalam 100 spermatozoa/hitung sperma dalam seluruh lapang pandang.
• Bedakan sperma yang hidup (tidak berwarna) dengan spermatozoa yang mati (merah/oranye)
 Interpretasi Hasil
• Sperma hidup : kepala spermatozoa tidak berwarna / putih
• Sperma mati : kepala spermatozoa berwarna merah / oranye
 Cara Pelaporan : Tulis prosentasi spermatozoa yang hidup (tidak berwarna). Contoh :
• Jumlah spermatozoa yang hidup = 115 buah
• Total prosentasi = 115 x 100% = 57,5%
200
• Vitalitas/Viabilitas : 57,5%
 Validasi Hasil :
Vitalitas/viabilitas harus ≥ A + B + C . Contoh: A = 5%; B = 20%; C = 20%; D = 55%. Jadi Vitalitas/viabilitas minimal jumlahnya tidak boleh kurang dari A + B + C = 45%

E. MORFOLOGI
 Nilai Normal : > 30%
 Cara Kerja :
• Campur sampel supaya homogen
• Buat apusan sampel di atas obyek glass yang benar-benar bersih dan keringkan di udara (Pembuatan apusan dapat dilakukan bersamaan pada saat meneteskan sample untuk hitung motilitas).
• Buat 2 preparat (untuk duplo ), dengan ketentuan :
 Jika konsentrasi (jumlah) sperma > 20 juta /mL, volume yang dipakai untuk membuat preparat : 5 uL
 Jika konsentrasi (jumlah) sperma < 20 juta /mL, * volume yang dipakai untuk membuat preparat : 10-20 uL • Sediaan yang sudah kering, fixasi dengan metanol p.a • Warnai preparat dengan pewarna Giemsa (pengenceran 1 Giemsa : 9 Aquabidest) selama 15-20 menit. (Keterangan: Modifikasi prosedur dapat dilakukan apabila menggunakan No Katalog/No Lot Reagen yang berbeda dengan melakukan pemantauan /evaluasi terhadap hasil preparat). • Cuci dengan aquabidest, keringkan diudara • Baca dengan pembesaran 1000X • Hitung dalam 200 spermatozoa, kecuali jika jumlah spermatozoa sangat sedikit maka dapat dihitung dalam 100 spermatozoa/ hitung sperma dalam seluruh lapang pandang. • Laporkan morfologi sperma dalam prosentasi.  Validasi Hasil: Untuk memvalidasi hasil pemeriksaan analisa sperma, hal-hal yang dapat dilakukan adalah : • Kekentalan sperma berkorelasi dengan motilitas. Contoh: apabila hasil motilitas sperma untuk A dan B tinggi, maka pada makroskopis sperma tidak mungkin sangat kental atau parameter pH menjadi abnormal. • Bila dalam pemeriksaan Morfologi Sperma ditemukan jumlah Sperma Normal > 30%, ulangi pemeriksaan morfologi untuk memastikan tidak adanya kategori Sperma Abnormal yang dimasukkan/dihitung sebagai kategori Sperma Normal, contoh : bentuk Piri/Lepto dibaca sebagai bentuk
• Normal. Jika ditemukan morfologi sperma yang meragukan/antara Normal dan Abnormal, laporkan sebagai sperma Abnormal.
• Hasil motilitas sangat berkorelasi dengan hasil morfologi sperma, contoh: bila motilitas sperma A+B < 50%, maka tidak mungkin hasil morfologi sperma Normal > 30%.
• Perhitungan vitalitas/viabilitas berkorelasi dengan jumlah motilitas, contoh: untuk hasil motilitas A= 5%, B= 10%, C= 25%, dan D= 60% maka hasil vitalitas/viabilitas tidak boleh kurang dari 40%.
 Interpretasi Hasil
Morfologi (Lihat pada Lampiran)
• Normal : kepala, leher dan ekor memiliki bentuk dan ukuran normal (bentuk lengkap & ukuran normal)
• Abnormal : adanya kelainan pada :
 Bentuk kepala, meliputi : Kepala : besar, kecil, bentuk lisong/taper, bola lampu/round, kepala kembar atau bentuk kombinasi, terato (amorf), pin
 Bentuk leher/bagian tengah, meliputi : Leher dan ekor membentuk sudut lebih besar dari 90ยบ, ketidaksimetrisan dari bagian tengah sampai kepala, bag.tengah tipis, bagian tengah membengkak / irreguler/ bengkok, atau kombinasi dari semuanya.
 Kelainan ekor, meliputi : Ekor pendek, ganda, seperti tusuk rambut, patah, tergulung, lebar tak teratur
 Sisa sitoplasma lebih besar dari 1/3 daerah kepala normal
 Cara Pelaporan :
Tulis prosentasi dari bentuk morfologi spermatozoa Normal dan Abnormal yang dilihat dibawah mikroskop (Lihat HPsL terlampir). Contoh untuk pembacaan sediaan dalam 200 spermatozoa, hasil morfologi :
• Normal : 30 sperma  30 /200 X 100% = 15%
• Abnormal : 170 sperma  170 /200 X 100% = 85%
 Catatan :
• Jumlah morfologi Normal dan Abnormal harus 100%
• Untuk gambar morfologi dapat dilihat pada buku Sperma dari WHO atau CD sperma
• Morfologi spermatozoa Abnormal cukup ditulis pada LKJ atau dapat dimasukkan ke dalam hasil apabila diperlukan/ada permintaan dari dokter, contoh :
 Piri : 60  60 /200 X 100% = 30%
 Lepto : 36  36 /200 X 100% = 18%
 Terato : 26  26 /200 X 100% = 13%
 Macro : 30  30 /200 X 100% = 15%
 Micro : 10  10 /200 X 100% = 5 %
 Double : 4  4 /200 X 100% = 2 %
 Tail defect : 4  4 /200 X 100% = 2 %
 Midpicedefect : 0  0 %
 Cytoplasmicdroplet : 0  0 %
 Total : 85 %
 Keterangan:
• Piri adalah spermatozoa yang mempunyai kepala yang memberi gambarann “tetesan air mata” dengan ujung yang menitik pada midpiece/berbentuk buah pear.
• Lepto adalah kepala kurus, lebar1/2 dari normal, akrosom tak jelas, memberi gambaran cerutu
• Terato adalah bentuk kepala yang ganjil, permukaan tak rata misalnya seperti gitar, kacang tanah dan lain-lain, tidak jelas batas akrosom
• Macro adalah kepala spermatozoa yang berbentuk oval tetapi ukurannya 25% lebih besar dari kepala normal
• Micro adalah kepala spermatozoa yang berbentuk oval tetapi ukurannya 25% lebih kecil dari kepala normal
• Double adalah spermatozoa yang mempunyai kepala lebih dari satu
• Tail defect adalah spermatozoa yang mempunyai ekor pendek (< dari 9x panjang kepala), ekor bentuk spiral/koil, atau ekor ganda • Midpicedefect adalah spermatozoa dengan midpiece gemuk (> dari ½ lebar kepala), panjangnya < dari 2 kali panjang kepala dan tidak satu garis dengan sumbu panjang kepala
• Cytoplasmicdroplet adanya tetesan sitoplasma yang menempel pada kepala atau midpiece
F. LEUKOSIT
Sperma biasanya juga berisi sel-sel bukan spermatozoa seperti leukosit.
 Nilai Normal : < 1 x 106/mL
 Cara Kerja :
• Dilakukan bersamaan pada saat pembacaan morfologi sperma.
• Hitung leukosit dalam juta/mL, dengan rumus :
Jumlah lekosit = N X S
200
N = jumlah leukosit dalam 200 spermatozoa
S = konsentrasi sperma dalam 106/mL
200 = sesuai dengan jumlah spermatozoa yang dibaca pada saat menghitung leukosit, contoh: 200 sperma
 Cara Pelaporan : Sebutkan jumlah leukosit dalam 106/mL. Contoh : Untuk menghitung jumlah leukosit dalam 106/mL
• N = 3 sel leukosit dalam 200 spermatozoa
• S = 45 x 106/mL
• Jumlah leukosit = 3 X 45 X 106 / mL
200
• Leukosit = 0,7 x 106/mL
 Keterangan: Bila ditemukan spermatozoa sangat sedikit, hitung leukosit dapat dilakukan minimal dalam 100 spermatozoa/hitung sperma dalam seluruh lapang pandang.
PERFORMANCE REAGEN: -
INTERFERENSI :
 Volume sample berkurang karena tumpah, cara pengambilan yang salah
 Stabilitas sample
 Kualitas sample berhubungan abstinentia/lamanya puasa
 Kebersihan ruang kerja
 Pembacaan sebelum liquefaksi sempurna
 Kontaminasi sample
 Homogenisasi sample
 Jenis penampungan/wadah sample
 Kualitas dan proses pewarnaan
 Kualitas mikroskop
 Kompetensi Analis

TINDAKAN PENCEGAHAN DAN PERINGATAN : -
FAKTOR KONVERSI : -

NILAI RUJUKAN : Lihat pada masing-masing parameter

INTERPRETASI HASIL :
Penilaian berdasarkan 3 parameter yaitu motilitas, konsentrasi (jumlah), dan morfologi spermatozoa
 Normozoospermia : Motilitas, konsentrasi, dan marfologi spermatozoa dengan hasil normal.
 Oligozoospermia : Konsentrasi spermatozoa < 20 juta/mL
 Asthenozoospermia : Motilitas A dan B < 50% dan atau motilitas A < 25%
 Teratozoospermia : Morfologi sperma normal < 30%
 Oligoasthenoteratozoospermia : Ditemukan kelainan pada ketiga variabel zoospermia, yaitu konsentrasi, motilitas dan morfologi (kombinasi yang terdiri dari 2 kelainan, hanya 2 awalan dapat dipakai), seperti :
• Oligoasthenozoospermia : kelainan dari konsentrasi dan motilitas
• Oligoteratozoospermia : kelainan dari konsentrasi dan morfologi
• Asthenoteratozoospermia : kelainan dari motilitas dan morfologi
 Azoospermia : Tidak ada spermatozoa dalam ejakulat
 Cryptozoospermia : Jika ada spermatozoa yang tersembunyi
 Nekrozoospermia : Jika spermatozoa 100% mati, diam tidak bergerak (None 100% dengan Vitalitas/Viabilitas 0%)

3 komentar:

  1. mantap ,kalau bisa sertakan contoh blangko untuk pelaporanmya

    BalasHapus
  2. Lengkap nih. izin copas yaa buat tugas :) terimakasih :)

    BalasHapus
  3. persisss sama kaya ik tempat lab ........... apakah km kerja disana....

    BalasHapus

GAMBAR

GAMBAR

Cari Blog Ini