Laman

Minggu, 16 September 2012

GULA REDUKSI

PEMERIKSAAN GULA REDUKSI Gula pereduksi merupakan golongan gula (karbohidrat) yang dapat mereduksi senyawa-senyawa penerima elektron, contohnya adalah glukosa dan fruktosa. Ujung dari suatu gula pereduksi adalah ujung yang mengandung gugus aldehida atau keto bebas. Semua monosakarida (glukosa, fruktosa, galaktosa) dan disakarida (laktosa,maltosa), kecuali sukrosa dan pati (polisakarida), termasuk sebagai gula pereduksi. Umumnya gula pereduksi yang dihasilkan berhubungan erat dengan aktifitas enzim, dimana semakin tinggi aktifitas enzim maka semakin tinggi pula gula pereduksi yang dihasilkan. Jumlah gula pereduksi yang dihasilkan selama reaksi diukur dengan menggunakan pereaksi asam dinitro salisilat/dinitrosalycilic acid (DNS) pada panjang gelombang 540 nm. Semakin tinggi nilai absorbansi yang dihasilkan, semakin banyak pula gula pereduksi yang terkandung. Secara alami, terdapat tiga bentuk karbohidrat yang terpenting, yaitu monosakarida, oligosakarida (terdiri atas 2-10 unit monoskarida), dan polisakarida (terdiri lebih dari 10 unit monosakarida). Contoh monosakarida adalah glukosa. Contoh oligosakarida adalah sukrosa. Contoh polisakarida adalah pati, amilum, selulosa, pektin, gum. Karbohidrat sebagai polihidroksi aldehid atau polihidroksi keton mempunyai kemampuan untuk mereduksi suatu senyawa. Sifat reduktif ini terdapat pada gugus hidroksil atom C nomor 1 untuk aldosa dan pada atom C nomor 2 untuk ketosa Ada banyak cara yang dapat digunakan untuk menentukan kandungan karbohidrat dalam bahan pangan, misalnya dengan cara kimiawi, fisik, enzimatis, biokimia, maupun kromatografi. Penentuan kandungan karbohidrat dengan cara kimia didasarkan pada reaksi oksidasi cupri menjadi cupro. Metode penetapan secara kimia meliputi: luff schoorl , munson-walker, lane eynon , nelson-somogy , Oksidasi ferri ,Iodometri (Sukatiningsih, 2010). Analisa karbohidrat dapat dilakukan terhadap kandungan total karbohidrat, kandungan total gula, kandungan pati, serat kasar, serat pangan, dan senyawa pektin. Semua senyawa karbohidrat tersebut dapat menentukan nilai gizi pangan bahan sumber karbohidrat. METODE Luff Schoorl Pada penentuan karbohidrat dengan metode Luff Schoorl, yang ditentukan bukan Cu2O yang mengendap tapi dengan menggunakan CuO dalam larutan yang belum direaksikan dengan gula reduksi (titrasi blanko) dan sesudah direaksikan dengan gula reduksi (titrasi sampel). Penentuannya dengan menggunakan titrasi volumetri. Setelah diketahui selisih banyaknya titrasi blanko dan titrasi sampel kemudian dikonsultasikan dengan tabel yang telah tersedia yang menggambarkan hubungan antara banyaknya Na2S2O3 dengan banyaknya gula pereduksi. Pada metode Luff Schoorl terdapat dua cara pengukuran yaitu : 1. Penentuan Cu tereduksi dengan I2 2. Menggunakan prosedur Lae-Eynon Metode Luff Schoorl mempunyai kelemahan yang terutama disebabkan oleh komposisi yang konstan. Hal ini diketahui dari penelitian A.M Maiden yang menjelaskan bahwa hasil pengukuran yang diperoleh dibedakan oleh pebuatan reagen yang berbeda. Monosakarida akan mereduksikan CuO dalam larutan Luff menjadi Cu2O. Kelebihan CuO akan direduksikan dengan KI berlebih, sehingga dilepaskan I2. I2 yang dibebaskan tersebut dititrasi dengan larutan Na2S2O3. Pada dasarnya prinsip metode analisa yang digunakan adalah Iodometri karena kita akan menganalisa I2 yang bebas untuk dijadikan dasar penetapan kadar. Dimana proses iodometri adalah proses titrasi terhadap iodium (I2) bebas dalam larutan. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal H2SO4) dalam larutannya yang bersifat netral atau sedikit asam penambahan ion iodida berlebih akan membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan membebaskan I2 yang setara jumlahnya dengan dengan banyaknya oksidator. I2 bebas ini selanjutnya akan dititrasi dengan larutan standar Na2S2O3 sehinga I2 akan membentuk kompleks iod-amilum yang tidak larut dalam air. Oleh karena itu, jika dalam suatu titrasi membutuhkan indikator amilum, maka penambahan amilum sebelum titik ekivalen. Metode Luff Schoorl ini baik digunakan untuk menentukan kadar karbohidrat yang berukuran sedang. Dalam penelitian M.Verhaart dinyatakan bahwa metode Luff Schoorl merupakan metode tebaik untuk mengukur kadar karbohidrat dengan tingkat kesalahan sebesar 10%. Persamaan reaksinya: R-COH + 2 CuO → Cu2O (s) + R-COOH (aq) H2SO4 (aq) + CuO → CuSO4 (aq) + H2O (l) CuSO4 (aq) + 2 KI (aq) → CuI2 (aq) + K2SO4 (aq) 2 CuI2 ↔ Cu2I2 + I2 I2 + Na2S2O3 → Na2S4O6 + NaI I2 + amilum → Biru Penetapan sebelum inversi dilakukan untuk mengetahui jumlah gula pereduksi yang terdapat dalam sampel. Penetapan inversi lemah dilakukan untuk mengetahui jumlah disakarida yang tidak bersifat reduksi seperti sukrosa. Penetapan sesudah inversi kuat biasanya dilakukan untuk menentukan kadar karbohidrat pada poliskarida. C. Alat dan Bahan Analisis Kualitatif Alat 1. Tabung reaksi 2. Rak tabung reaksi 3. Pipet tetes tangkai panjang 4. Kaca preparat 5. Penangas air 6. Mikroskop 7. Batang pengaduk 8. Pemanas listrik 9. Botol semprot 10. Kertas saring 11. Corong kaca 12. Gelas kimia 13. Spatula 14. Kertas lakmus’ 15. Penjepit tabung reaksi Bahan 1. Pereaksi Molisch 2. Pereaksi Asam Pikrat 3. Pereaksi Barfoed 4. Pereaksi Benedict 5. Pereaksi Seliwanoff 6. Pereaksi Fenilhidrazin 7. Air tebu 8. Larutan kanji 1% 9. Larutan NaOH 6M 10. Larutan HCl 6M 11. Larutan I2 0,01M 12. Larutan HCl pekat 13. Amil Alkohol Analisis Kuantitatif Alat 1. Tabung Reaksi 2. Gelas Kimia 250mL 3. Kassa 4. Botol semprot 5. Labu ukur 250mL 6. Kertas saring 7. Corong pendek 8. Labu erlenmeyer 9. Pembakar bunsen 10. Buret 11. Pipet volum 12. Gelas ukur 13. Pipet tetes 14. Batang pengaduk Bahan 1. Larutan Na2S2O3 2. Larutan H2SO4 3. Larutan KI 4. Air tebu 5. Larutan HCl 6. Aquades 7. Larutan NaOH 8. Larutan Luff Schoorl - CuSO4.5H2O - Asam sitrat - Na2CO3.10H2O DIAGRAM ALIR PEMERIKSAAN KARBOHIDRAT DAFTAR PUSTAKA http://tivachemchem.blogspot.com/2010/10/analisis-kualitatif-dan-kuantitatif.html http://www.google.co.id/imgres?um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&noj=1&tbm=isch&tbnid=-Z58cSx4ySNhtM:&imgrefurl=http://herypurwantomanik.blogspot.com/2012/01/karbohidrat.html&docid=XTbTaD5Pg5kyiM&imgurl=http://1.bp.blogspot.com/-S7pk8PNkSCg/Tw7tyWaloNI/AAAAAAAAAN8/OZvK8o_Zs0M/s1600/dextran.gif&w=324&h=303&ei=wgZQUOy5B9ChiAf044GABQ&zoom=1&iact=rc&dur=9&sig=116407711534610153078&page=2&tbnh=145&tbnw=155&start=10&ndsp=15&ved=1t:429,r:2,s:10,i:112&tx=68&ty=20&biw=1024&bih=497 http://queenofsheeba.wordpress.com/2009/11/17/luff-schoorl/ http://eremjezone.blogspot.com/2010_05_01_archive.html http://id.wikipedia.org/wiki/Gula_pereduksi

Rabu, 23 November 2011

clotting time

clotting time

waktu pembekuan darah merupakan waktu yang diperlukan untuk darah menggumpal dalam tabung kaca alam .dalam metode lee and white darah dalam tabung reaksi dipertahankan pada suhu konstan. dan diperiksa secara teratur,sampai terjadi bekuan.tes dapat juga dialihkan pada tabung kapiler disebjut juga waktu koagulasi.

serangkaian protein plasma yang terkait melalui kaskade komplek.enzim katalis reaksi yang melibat kan pembelahan berurutandari molekul pembelahan berurutan dari molekul protein besar untuk menghasilkan peptida.masing -masing yang mengubah suatu prekusor inaktif (zymogen)faktor II,menjadi enzim aktifyang mengarah ke pembekuan fibrin.

Mereka ditunjuk oleh angka Romawi, dan tambahan 'a' untuk menunjukkan negara diaktifkan. Mereka adalah: faktor I (fibrinogen), faktor II (protrombin), faktor III (tromboplastin jaringan), faktor IV (kalsium), faktor V (proaccelerin), faktor VI (tidak lagi dianggap aktif dalam hemostasis), faktor VII (proconvertin) , faktor VIII (antihemophilic faktor), faktor IX (komponen tromboplastin plasma; Natal faktor), faktor X (faktor stuart), faktor XI (plasma tromboplastin anteseden), faktor XII (faktor Hageman), faktor XIII (fibrin menstabilkan faktor).
waktu pembekuan
waktu yang diperlukan untuk darah menggumpal dalam tabung kaca; ukuran dari sistem koagulasi intrinsik. Dalam metode Lee-White, darah dalam tabung reaksi dipertahankan pada suhu konstan dan diperiksa secara teratur sampai pembekuan terjadi; tes dapat juga dilakukan dalam tabung kapiler. Disebut juga waktu koagulasi. Kurang sensitif dan sekarang lebih sering digunakan daripada waktu koagulasi yang diaktifkan.
Faktor pembekuan jaringan
Faktor pembekuan III; tromboplastin jaringan.

Waktu pembekuan Lee-White menggunakan tiga tabung yang disimpan dalam suhu 37°C, masing-masing berisi 1 ml darah lengkap. Tabung-tabung ini secara hati-hati dimiringkan setiap 30 detik untuk meningkatkan kontak antara darah dan permukaan kaca untuk melihat kapan pembekuan terjadi. Darah normal membeku secara padat dalam waktu 4-8 menit. Dahulu uji ini digunakan untuk memantau terapi heparin, yang memperpanjang waktu pembekuan.

Sumber: http://adiyarea.blogspot.com/2011/11/clotting-time.html
http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/clotting+time

clotting time

waktu pembekuan darah merupakan waktu yang diperlukan untuk darah menggumpal dalam tabung kaca alam .dalam metode lee and white darah dalam tabung reaksi dipertahankan pada suhu konstan. dan diperiksa secara teratur,sampai terjadi bekuan.tes dapat juga dialihkan pada tabung kapiler disebjut juga waktu koagulasi.

serangkaian protein plasma yang terkait melalui kaskade komplek.enzim katalis reaksi yang melibat kan pembelahan berurutandari molekul pembelahan berurutan dari molekul protein besar untuk menghasilkan peptida.masing -masing yang mengubah suatu prekusor inaktif (zymogen)faktor II,menjadi enzim aktifyang mengarah ke pembekuan fibrin.

Waktu pembekuan Lee-White menggunakan tiga tabung yang disimpan dalam suhu 37°C, masing-masing berisi 1 ml darah lengkap. Tabung-tabung ini secara hati-hati dimiringkan setiap 30 detik untuk meningkatkan kontak antara darah dan permukaan kaca untuk melihat kapan pembekuan terjadi. Darah normal membeku secara padat dalam waktu 4-8 menit. Dahulu uji ini digunakan untuk memantau terapi heparin, yang memperpanjang waktu pembekuan.

Rabu, 26 Oktober 2011

Salmonella paratyphi

MORFOLOGI
Salmonella paratyphi adalah bagian dari family Enterobacteriaceae, termasuk
dalam motil Gram-negative, berbentuk batang, bersifat fakultatif anaerob dan
terdapat identifikasi serologis antigens somatic dan flagellar.
3. SIKLUS HIDUPNYA
Untuk siklus hidup dari bakteri Salmonella paratyphi tidak diperoleh sumber
informasi yang lengkap sehingga siklus hidup pada bakteri ini tidak dapat
dijelaskan.
4. PENYAKIT YANG DITIMBULKAN
Salmonella paratyphi adalah penyebab demam enteric. Salmonella paratyphi
juga memiliki jangkauan inang yang luas dan beberapa diantaranya menyebabkan
penyakit atau peradangan usus dan penyakit sistemik (menyebabkan demam
Paratyphoid) serta Enterocolitis (Dahulu “Gastroenteritis”).
5. PENYEBARAN
Adapun Penyebaran dari bakteri Salmonella paratyphi ini melalui makanan dan
minuman yang telah terkontaminasi oleh bakteri tersebut. Makanan dan minuman
yang membawa bakteri tersebut masuk kedalam mulut kemudian akan melewati
saluran pencernaan dan akan sampai ke usus. Setelah memasuki dinding usus kecil,
Salmonella paratyphi mulai melakukan penyerangan melalui system limfa ke limfa
yang menyebabkan pembengkakan pada urat dan setelah satu periode
perkembangbiakan bakteri tersebut kemudian menyerang aliran darah. Aliran darah
yang membawa bakteri ini juga akan menyerang liver, kantong empedu, limfa, ginjal,
dan sumsum tulang dimana bakteri ini kemudian berkembangbiak dan menyebabkan
infeksi organ-organ ini. Melalui organ-organ yang telah terinfeksi inilah mereka
terus menyerang aliran darah yang menyebabkan bacteremia skunder. Bacteremia
skunder ini bertanggung jawab sebagai penyebab terjadinya demam dan penyakit
klinis.
6. PENULARAN
Salmonella paratyphi terjadi secara sporadis dengan penjangkitan yang
terbatas dan hanya terjadi pada manusia. Bakteri ini menular melalui kontak
langsung maupun tak langsung dengan tinja atau melalui urin pada pasien penderita
namun hal tersebut jarang ditemukan. Media penularan Salmonella paratyphi dapat
juga melalui makanan dan minuman yang telah tercemar oleh bakteri tersebut
terutama susu, produk susu maupun perikanan, bisa juga tercemar melalui tangan
kotor ataupun lalat yang mungkin menyebabkan kontaminasi.
Beberapa penularan yang berhubungan dengan ketersediaan air telah
didokumentasikan. Periode inkubasinya antara 1 hingga 3 minggu. Salmonella
paratyphi dikeluarkan melalui tinja dari manusia atau binatang yang terinfeksi.
Kontaminasi tinja dari air tanah atau air permukaan juga air olahan yang tidak layak
dalam pemrosesannya serta air minum yang tak layak untuk dipakai menjadi
penyebab utama timbulnya epidemic air yang disebabkan oleh Salmonella paratyphi.
7. GEJALA
Salmonella paratyphi menyebabkan demam infeksi bakteri yang di tandai
dengan serangan kasar dilanjutkan dengan demam, rasa tak enak badan, sakit
kepala, susah tidur, pembengkakan limpa, bradycardia, dan munculnya bintik-bintik.
Pada orang dewasa lebih umum terjadi konstipasi dibanding diare, komplikasi
meliputi pelubangan pada usus, penyakit kejiwaan, hepatitis, cholecystitis,
pneumonitis, dan pericarditis. Secara klinis demam paratifoid sama dengan demam
tifoid akan tetapi tingkat kefatalannya lebih rendah. Sedangkan pada Enterocolitis
biasa bisa terjadi tanpa demam enteric yang ditandai dengan sakit kepala, sakit
perut, mual, muntah, diare dan dehidrasi.
8. OBAT YANG DIGUNAKAN
Pengobatan untuk demam paratifoid yang disebabkan oleh Salmonella
paratyphi biasanya menggunakan obat antibiotic namun ada juga pengobatan dengan
cara memberikan Vaksin. Obat yang sering digunakan adalah Ofloxacin (Ofloxacin
oral), chloramphenicol, Trimethoprim - Sulfamethoxazole, Cefotaxime,
Ciprofloxacin, Gentamicin, Ampicillin dan Amikacin. Namun tidak semua obat-obat
antibiotic ini dapat membunuh atau mematikan bakteri Salmonella paratyphi. Hal ini
disebabkan karena bakteri resisten terhadap obat-obat antibiotic tersebut. Jadi
bakteri mampu menunjukkan ketahanannya atau mampu untuk mempertahankan diri
sehingga obat-obat antibiotic tersebut mengalami penurunan kepekaan terhadap
bakteri Salmonella paratyphi. Sehingga obat-obat antibiotic tersebut tidak dapat
bekerja secara maksimal dan tidak dapat membunuh bakteri Salmonella paratyphi
karena aktiivitas obat antibiotic tersebut dihambat terlebih dahulu oleh bakteri.

Minggu, 02 Oktober 2011

Selasa, 20 September 2011

TRICHOMONAS VAGINALIS

TRICHOMONAS VAGINALIS

A.Taksonomi
Trichomonas vaginalis meruakan protozoa dari super dass mastigophora (diesing,1866),class zoomastigophora(calkins1909)ordo trichomonadidae (chalmers & pekola 1918),family trichomonadidae ini kemudian oleh honigberg(1946) dibagi menjadi sub family Trichomonadinae dengan genus Trichomonas dan Pentatrichomobus

B.Morfologi
Protozoa ini berbentuk oval ,panjang 4,32 mikro meter dan lebar 2,4-14,4mikrometer.memiliki flagell intinya berbentuk oval terletak dibagian atas tubuhnya ,dibelakang inti terdapat blepharoblast sebagai tempat keluarnya 4 flagella,yang menjuntai bebas dan melengkung diujung nya sebagai alat gerak yang aju mundur.flagella kelima melekat ke undulating membrane dan menjuntai kebelakang sepanjang setengah panjang tubuh protozoa ini.sitoplasma terdiri dari suatu struktur yang berfungsi seperti tulang yang disebut sebagai axostyle.
Trichomonas vaginalis ini memperoleh makanan secara osmosis dan fagositosis.perkembangbiakanya dengan cara membelah diri(binary fussion)dan inti membelah dengan cara mitosis yg dilakukan setiap 8-12 jam dengan kondisi yang optimum.Untuk hidup dan berkembang biak ,Trichomonas vaginalis membutuhkan kondisi lingkungan yang konstan dengan temperature sekitar 35-37 derajat celcius.ph antara 4,9 dan 7,5 dan sangat baik pertumbuhanya pada ph sekitar 5,5 dan 6.trichomonas vaginalis,dapat di identifikasikan dari sediaan secret vagina yang masih segar,dimana kita dapat melihat organisme ini secara jelas beserta pergerakannya.

C.Patologi
Trichomonas vaginalis masuk kedalam vagina melalui hubungan seksual ,yang kemudian menyerang epitel squamosa vagina dan mulai bermultiplikasi secara aktif,hal ini menyebabkan suplai glikogen untuk lactobacillus menjadi berkurang bahkan menjadi tidak ada sama sekali.Dan diketahui secara in vitro ternyata ternyata trichomonas vaginalis ini memakan dan membunuh lactobacillusdan bakteri lainnya.akibatnya jumlah lactobacillus menjadi sedikit sehingga produksi laktat akan semakin menurun,akibat kondisi ini ph vagina akan meningkat antara5-5,5 pada suasana basa seperti ini selain Trichomonas vaginalis berkembang semakin cepat dan memungkinkan untuk berkembangnya mikroorganisme patogen lainya sepeti jamur dan bakteri


Diagnosa
Diagnose dapat ditegakan melalui hal berikut ini
• Pemeriksaan mikroskopis
Dilakukan dengan cara membuat sediaan dari secret dinding vagina dicampur satu tets garam fisiologis diatas gelas objek dan diamati dibawah mikroskop\
• Kultur
• Serologi dan immunologi
• Terapi
Metrodinazole adalah antibiotic pilihan pertama ada yang paling baik intuk kasus Trichomoniasis.Atau dapat menggunakan antibiotic lain seperti tinidazole,ornidazole,dll

Jumat, 17 Juni 2011

SPERMA ANALISA



TUJUAN :
Untuk menganalisa pemeriksaan semen (seperti: volume, warna, bau, konsistensi, dll) dan karakteristik morfologi/kemampuan fungsional dari konstituen spermatozoa, dengan memperhatikan kualitas stabilitas semen. Analisa sperma umumnya digunakan untuk studi infertilitas, studi postvasektomi, diagnosa azoospermia, oligospermia dll.

PRINSIP PEMERIKSAAN :
Secara Makroskopis : warna, bau cairan semen diamati serta dilakukan pengukuran liquefaksi, pH, viskositas dan pengukuran volume dilakukan paling akhir minimal setelah proses pemeriksaan motilitas dilakukan (untuk mengurangi resiko kontaminasi dari tabung kerucut/gelas ukur dengan mengestimasi banyaknya sperma yang telah digunakan).
Secara Mikroskopis : Aduk cairan semen secara perlahan sampai homogen dan amati adanya spermatozoa, motilitas, aglutinasi, dan jumlah spermatozoa. Setelah dibuat pengecatan preparat amati marfologi, leukosit serta viabilitas spermatozoa

METODE : Makroskopis dan Mikroskopis
METODE REFERENCE: -

SAMPEL :
 Jenis : Cairan semen (mani/ejakulat)
 Jumlah : Semua ejakulat yang dikeluarkan (tidak boleh ada yang tumpah)
 Stabilitas : Dalam 1 jam pada suhu kamar sejak dikeluarkan, dengan puasa seksual 2-7 hari
 Catatan :
 Semua persyaratan sampel yang tidak terpenuhi, sebaiknya ditolak kecuali ada permintaan atau persetujuan dari klinisi/pasien
 Untuk hasil azoospermia setelah dilakukan pemutaran >3000g selama 15 menit. Tuliskan pada HPsL di kolom Catatan: dianjurkan untuk dilakukan pengulangan sampel dengan menggunakan sampel baru, dengan jarak waktu antara 1 minggu - <3 minggu, kecuali untuk keterangan klinis pasca vasektomi atau sebelumnya sampel sudah pernah dilakukan pengulangan dengan sampel baru, maka tidak perlu diberi catatan. Untuk proses pemantauan pengobatan, jarak waktu pengulangan sample disesuaikan dengan permintaan dokter.  Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat pemeriksaan sperma adalah suhu ruang kerja > 200 – 40o C dan kondisi ruang kerja harus bersih, bebas debu serta tidak menimbulkan bau yang menyengat, contoh: pengharum ruangan, alkohol dan lain lain. Hal ini dapat mengganggu pemeriksaan motilitas sperma.

REAGEN :
 Pengecatan preparat
 Giemsa (Romanovsky-Giemsa)
 Aquabidest
 Metanol p.a
 Kertas pH : 6.5 - 10.0 (Katalog: 9543) atau bila pH > 10 pergunakan kertas pH 0-14 (Katalog 1.09533.000.1)
 NaCl 0.9%
 Larutan pengencer jumlah spermatozoa disiapkan oleh Perbekalan Pusat
 Eosin 0.5% disiapkan oleh Perbekalan Pusat

KONTROL : -

KALIBRATOR : -

ALAT :
 Kamar hitung Improved Neubauer
 Mikroskop
 Objek glass
 Deck glass 22 X 22 mm
 Pipet ukur 5,0 mL
 Stop watch
 Tabung reaksi
 Batang Pengaduk
 Gelas ukur / tabung kerucut kaca
 Mikro pipet

LANGKAH KERJA/PROSEDUR PEMERIKSAAN
DAN PARAMETER YANG DILAPORKAN
1. DATA SAMPEL
Tuliskan jam pengumpulan, jam penerimaan dan jam pemeriksaan sampel. Cara pelaporan :
 Jam Pengumpulan : 07.30
 Jam Penerimaan : 07.40
 Jam Pemeriksaan : 08.10
Keterangan : Jam pemeriksaan di catat pada saat mengerjakan pemeriksaan motilitas
2. TERTAMPUNG
A. Interpretasi hasil
 Lengkap : Jika semua sampel tertampung pada wadah.
 Tidak Lengkap : Jika tidak semua sampel tertampung pada wadah (tumpah sebagian)
B. Cara Pelaporan
Tuliskan kondisi dari sampel tersebut
Contoh : Lengkap

3. CARA PENGELUARAN
A. Cara Pengeluaran : Masturbasi, Coitus interuptus, kondom atau lainnya
B. Cara Pelaporan : Tuliskan cara mengeluarkan sperma dari pasien. Contoh : Masturbasi
C. Catatan : Cara pengeluaran sampel yang dianjurkan adalah masturbasi

4. WADAH (tempat penampungan sample sperma)
A. Wadah : gelas atau plastik disposable yang memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh TQA Pusat.
B. Cara Pelaporan : Tuliskan tempat (wadah) dari sampel. Contoh : Wadah plastik yang memenuhi persyaratan untuk sperma
Keterangan : wadah plastik yang distandardisasi oleh T-QA Pusat dan dianjurkan menggunakan wadah disposable.


5. PUASA SEKSUAL (ABSTINENSIA)
A. Puasa seksual yang dimaksud adalah berapa lama tidak melakukan hubungan seksual/tidak mengeluarkan sperma atau waktu terakhir sperma dikeluarkan
B. Nilai normal : 2 - 7 hari
C. Cara Pelaporan :Tuliskan berapa hari pasien tidak berhubungan seksual. Contoh : 3
Catatan :
 Bila abstinensia < 2 hari atau > 7 hari, beri catatan di HPsL
 Pada saat pasien mimpi basah, berarti pasien tidak dihitung sebagai waktu abstinensia/puasa seksual (karena ada sperma yang dikeluarkan)

6. PEMERIKSAAN MAKROSKOPIS
SEMUA PARAMETER ANALISA SPERMA DIKERJAKAN SETELAH TERJADI LIQUEFAKSI SEMPURNA
Jika sampai 1 jam belum terjadi liquefaksi sempurna, maka pemeriksaan boleh dikerjakan, dengan diberi catatan pada HPsL " Pemeriksaan dilakukan pada sampel yang belum liquefaksi sempurna "
A. VOLUME
Dikerjakan paling akhir dengan memperhitungkan volume sample yang telah digunakan untuk pemeriksaan.
 Nilai Normal : Volume : > 2.0 mL
 Cara Kerja : Volume semen diukur dengan menggunakan gelas ukur kaca atau tabung sentrifuse kaca (dasar kerucut) yang berskala 0,1 mL.
 Cara pelaporan : Tulis volume yang ditunjukkan pada tabung kerucut/gelas ukur kaca dan dinyatakan dalam mL. Contoh : 2.0 mL
Catatan : Jika volume sampel kurang dari 2 mL, disarankan untuk mengulang penampungan sample (bila memungkinkan). Bila tidak memungkinkan sampel tetap dikerjakan dan parameter yang diperiksa disesuaikan dengan jumlah sampel.

B. BAU
 Nilai Normal : Bau : Khas
 Interpretasi Hasil
• Khas : Jika bau seperti bunga akasia
• Tidak Khas : Jika bau tidak seperti bunga akasia
 Cara Pelaporan : Sebutkan bau dari sampel. Contoh : Khas

C. WARNA
 Nilai Normal : Warna : Putih keabu-abuan atau kelabu pucat
 Interpretasi Hasil
• Putih keabu-abuan/kelabu pucat : jika jumlah spermatozoa normal
• Putih Jernih : Jika jumlah spermatozoa sedikit
• Coklat : Jika ada eritrosit
• Kuning : Jika pasien ikterus atau minum vitamin
 Cara Pelaporan : Sebutkan warna dari sampel yang dilihat. Contoh : Putih keabu-abuan

D. pH
 Nilai Normal : pH : 7.2 – 7.8 (Reff. WHO Ed. 3)
 Cara Kerja :
• Teteskan setetes sampel diatas kertas pH dan sebarkan secara merata
• Setelah 30 detik bandingkan warna yang terjadi dengan kertas standard dari kertas pH
• Baca pH dari sampel tersebut.
 Cara pelaporan: Tulis pH yang ditunjukkan oleh kertas pH. Contoh : 7.0

E. LIQUEFAKSI ( PENCAIRAN )
 Nilai Normal : Mencair maximal dalam waktu 60 menit
 Cara Kerja :
• Biarkan sperma dan tunggu sampai terjadi liquefeksi sempurna.
• Siapkan stop wacth (jam), tunggu selama 20 menit kemudian homogenkan sampel dengan cara memutar-mutarkan wadah sampel secara manual untuk mengurangi kesalahan (jangan diaduk-aduk). Bila diperlukan homogenisasi dapat dilakukan dengan menggunakan batang pengaduk kaca.
• Catatan : homogenisasi sample tidak boleh dilakukan dengan menggunakan benda tajam/runcing, seperti: tip pipet
 Interpretasi Hasil
• Normal : Sampel mencair maximal ≤ 60 menit
• Abnormal : mencair > 60 menit
 Cara Pelaporan : Tuliskan waktu lamanya proses pencairan. Contoh : 20 menit

F. VISKOSITAS
 Nilai Normal : < 2 cm .  Cara Kerja : Viskositas dapat dikerjakan dengan menggunakan batang pengaduk kaca atau pipet 5.0 mL  Dengan pipet 5.0 mL • Sperma yang telah homogen diisap secara perlahan dengan pipet 5.0 • Dengan posisi tegak lurus biarkan sperma menetes karena gaya berat . • Ukur panjang dari benang tetesan tersebut.  Dengan batang pengaduk • Masukkan batang pengaduk kaca ke dalam wadah sampel • Tarik batang pengaduk dan ukur panjang benang yang terbentuk pada saat batang pengaduk ditarik  Cara pelaporan : Tulis berapa cm benang tetesan yang terbentuk (Lihat pada lampiran 3). Contoh : 1,5 cm  Catatan : Jika didapatkan sampel sangat encer, sehingga tidak terbentuk benang, maka laporkan < 1 cm 7. PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS Dalam 1 sediaan dapat dilakukan pemeriksaan untuk :  Motilitas  Aglutinasi  Jumlah perkiraan spermatozoa. Cara kerja :  Ambil masing-masing 10 uL sampel yang sudah homogen dan buat 2 sediaan dalam 1 kaca obyek  Tutup masing-masing sediaan dengan kaca penutup ukuran 22x22 mm atau 20x20 mm, biarkan 1 menit  Cek penyebaran sperma di masing-masing sediaan.  Bila penyebaran sperma sudah tampak merata dalam lapang pandang di masing-masing sediaan, lihat perkiraan jumlah sperma pada ke-2 sediaan (contoh: perkiraan jumlah sperma di sediaan 1 dan sediaan 2 tidak boleh berbeda jauh (Lihat tabel pada lampiran2). Jika terjadi perbedaan jumlah sperma/LP berbeda jauh, lakukan homogenisasi sample dan ulangi No. 1- 4)  Periksa sediaan dengan pembesaran 400X. Lakukan pembacaan untuk motilitas, pengamatan terhadap adanya aglutinasi dan pencacahan jumlah spermatozoa. A. MOTILITAS  Kategori hasil : • Bergerak cepat dan maju lurus • Bergerak lambat atau sulit maju lurus • Bergerak di tempat • Tidak bergerak  Nilai Normal : A + B : > 50% dan/atau A : > 25%. Contoh : A = 35% + B = 30% atau A = 30% + B = 10%
 Cara Kerja :
• Sediaan yang sudah dibiarkan 1 menit
• Periksa dibawah mikroskop dengan pembesaran 400X
• Amati motilitas dari spermatozoa dan cek penyebaran sperma seluruh lapang pandang untuk memastikan homogenisasi sampel. Hitung motilitas minimal dalam 200 sperma (semakin banyak sperma yang dihitung semakin baik).
• Contoh pemilihan area sepeti pada gambar :


• Semua spermatozoa dengan kategori A dan B dihitung terlebih dahulu, baru kemudian kategori C dan D pada lapang pandang yang sama.
• Jumlah spermatozoa untuk semua kategori dihitung sampai mendapatkan jumlah min. 200 spermatozoa, kecuali bila jumlah spermatozoa sangat sedikit maka hitung sperma dalam seluruh lapang pandang.
• Pemeriksaan dilakukan Duplo dengan membuat 2 sediaan, dan hitung rata-ratanya
• Catatan: Jumlah ke-2 perhitungan tersebut untuk tiap kategori tidak boleh melebihi selisih yang diperbolehkan (Lihat tabel pada Lampiran 2)
• Buat prosentasi tiap kategori dari motilitas spermatozoa untuk masing-masing sediaan :
% motilitas sperma = Jumlah masing-masing kategori motilitas x 100 %
Total sperma
Contoh : Bila ditemukan 20 sperma D dalam 210 sperma :
% D = 20/210 x 100% = 9.5 %
 Cara Pelaporan : Tulis prosentasi untuk masing-masing kategori dan catat pada lembar kerja ( LKj )
Contoh hasil pembacaan 2 siapan :
Siapan Kategori (%)
A B C D
I 50 20 20 10
II 20 20 30 30
Jumlah 70 40 50 40
Selisih 30 0 10 20
Selisih yang diijinkan (Tabel) ≤ 16 ≤ 12 ≤ 14 ≤ 12

Dari data diatas , pada kategori A dan D terdapat perbedaan lebih dari selisih yang diperbolehkan pada tabel Lampiran 1, maka harus dibuat 2 sediaan baru dan interpretasikan hasilnya kembali.
Contoh hasil 2 sediaan baru adalah :
Siapan Kategori (%)
A B C D
I 50 20 20 10
II 40 20 30 10
Jumlah 90 40 50 20
Selisih 10 0 10 0
Selisih yang diijinkan (Tabel) ≤ 19 ≤ 12 ≤ 14 ≤ 9

 Contoh pelaporan :
• A : 45 % ( rata-rata dari 50 + 40 )
2
• B : 20% ( rata-rata dari 20 + 20 )
2
• C : 25% ( rata-rata dari 20 + 30 )
2
• D : 10% ( rata-rata dari 10 + 10 )
2

B. AGLUTINASI
Yang disebut aglutinasi adalah spermatozoa motil (sperma yang masih dapat bergerak) yang saling melekat satu dengan yang lainnya/bergerombol (bisa kepala dengan kepala, bagian tengah dengan tengah, ekor dengan ekor atau campuran) di mana dalam 1 gerombol ditemukan minimal 5 spermatozoa yang bergerak.
 Nilai Normal : Negatif
 Cara Kerja : Diamati bersamaan pada saat mengerjakan motilitas (Lihat minimal dalam 10 lapang pandang secara acak).
 Interpretasi Hasil
• Negatif : Jika tidak ada aglutinasi
• Positif (+1) : terdapat 1 – 2 kelompok
• Positif (+2) : terdapat 3 – 5 kelompok
• Positif (+3) : terdapat > 5 kelompok
 Cara pelaporan : Negatif atau Positif. Contoh : (+1)

C. KONSENTRASI SPERMATOZOA
Pencacahan jumlah spermatozoa dengan Hemositometer (Tabel Pengenceran).
Jumlah sperma
kotak sedang < 10 sperma 10 – 40 Sperma > 40 Sperma
Pengenceran Dihitung
25 kotak Dihitung
10 kotak Dihitung
5 kotak
1 : 4 20 8 4
1 : 9 10 4 2
1 : 19 5 2 1
1 : 49 2 0.8 0.4
Pengenceran 1 : 19 biasanya dilakukan sebagai pengenceran awal.
 Cara Kerja
• Aduk sampel dengan batang pengaduk sampai homogen.
• Lakukan pengenceran awal sampel dengan pengenceran 1 : 19
• Siapkan bilik hitung ”Improved Neubauer” dan kaca penutup. Kemudian teteskan sampel yang sudah diencerkan dari salah satu sisi kaca penutup.
• Amati penyebaran spermatozoa, bila tidak merata ulangi No. 3. Bila spermatozoa yang diperoleh terlalu banyak ulangi dengan pengenceran yang lebih tinggi, dan bila terlalu sedikit ulangi dengan pengenceran yang lebih rendah.
• Hitung semua jumlah spermatozoa.
• Bidang yang dipakai adalah kotak besar (tengah) yang terdiri dari 25 kotak sedang (R).
• Perhatikan cara penghitungan sesuai dengan yang tertera pada tabel pengenceran :
 Hitung rata-rata spermatozoa pada kotak sedang (tengah) :

 Jika didapat <10 sperma dalam kotak sedang, hitung sperma dalam 25 kotak sedang atau buat pengenceran baru dengan pengenceran yang lebih rendah, contoh : 1:9.  Jika didapat 10-40 sperma dalam kotak sedang, hitung sperma dalam 10 kotak sedang  Jika didapat >40 sperma dalam kotak sedang, hitung sperma dalam 5 kotak sedang atau buat pengenceran baru dengan pengenceran yang lebih tinggi, contoh: 1:49.
 Contoh cara pembacaan (untuk menghindari sperma dihitung 2X) : Untuk kepala yang letaknya menyinggung garis tengah batas pemisah 2 bidang sebelah kiri dan atas di mana ekornya masih masuk ke dalam kotak pembacaan, maka sperma harus dihitung. Sedangkan untuk kepala sperma yang menyinggung garis tengah batas sebelah kanan dan bawah, maka sperma tidak ikut dihitung.
 Perhitungan jumlah spermatozoa dilakukan pada kedua sisi kamar hitung ( atas dan bawah/Duplo ) dan dibuat rata-ratanya serta ditulis di Lembar Kerja ( LKj ).
 Untuk menentukan jumlah spermatozoa dalam 106/mL, bagilah jumlah rata-rata sperma dengan faktor konversi yang sesuai dengan tabel pengenceran diatas. Untuk melihat perbedaan hasil Duplo dari ke-2 pemeriksaan, gunakan tabel pada Lampiran 2: Contoh : Jumlah rata-rata spermatozoa pada masing-masing bilik adalah 247 dan 213.
Jumlah total = 460, selisih = 34.
Selisih yang diperbolehkan berdasarkan tabel harus < 42  perhitungan ini dapat dilanjutkan jika didapat perbedaan atau selisih lebih dari yang tercantum dalam tabel, maka perhitungan harus diulang dengan melakukan homogenisasi sampel terlebih dahulu .  Catatan: Jika tidak ditemukan spermatozoa : • Buat sediaan baru dan lakukan pemeriksaan oleh Analis yang berbeda (dengan mencantumkan min. 2 nama Analis yang mengerjakan pada LKJ). • Lakukan konfirmasi kepada Branch Operation Supervisor terkait. • Bila hasil sediaan tetap tidak ditemukan spermatozoa, putar semua sampel dengan kecepatan > 3000 g (lihat konversi gavities ke rpm pada Lampiran 1) selama 15 menit
• Periksa kembali apakah ditemukan/tidak spermatozoa.
• Jika tetap tidak ditemukan (setelah disentrifuge), maka hasil sperma langsung dikeluarkan sebagai Azoospermia dengan memberikan catatan HPsL : Disarankan untuk melakukan pengulangan sampel dengan menggunakan sampel baru, dengan jarak waktu antara 1 minggu - ≤ 3 minggu
• Laporkan hasil Analisa Sperma sebagai Azoospermia. Untuk status pasien pasca vasektomi/sebelumnya sudah pernah dilakukan pengulangan dengan sampel baru, beri catatan pada HPsL : sampel sudah diulang
• Tulis :
 Pada kolom kesimpulan " Azoospermia"
 Di pelaporan makroskopis: konsentrasi dan jumlah ditulis “0” (nol)
• Jika setelah disentrifuge didapatkan beberapa spermatozoa, laporkan hasil sebagai cryptozoospermia dengan catatan pada HPsL: motilitas dan konsentrasi tidak dikerjakan karena jumlah sperma sangat sedikit (lihat contoh HPsL untuk cryptozoospermia).
 Nilai Normal : > 20 juta /mL
 Cara Pelaporan : Sebutkan jumlah spermatozoa yang didapat dari perhitungan kamar hitung. Contoh (lihat Tabel Pengenceran) :
 Pengenceran : 1:19
 Rata-rata per kotak sedang : 10 - 40 sperma
 Jadi kotak sedang yang dihitung : 10 kotak
 Jumlah spermatozoa yang didapat : 162 & 170
 Rata-rata jumlah spermatozoa : 166
 Lihat faktor pada tabel pengenceran : 2
 Jadi konsentrasi spermatozoa : 166 : 2
 Konsentrasi spermatozoa : 83 106/mL
• Untuk menghitung jumlah, lakukan perhitungan konsentrasi sperma X volume ejakulat. Contoh :
 Konsentrasi sperma = 83 106/mL
 Volume ejakulat = 5.0 ml
 Jumlah = 83 X 5.0 = 415 106/ejakulat
D. VITALITAS ( VIABILITAS )
Pemeriksaan vitalitas/viabilitas dilakukan jika jumlah spermatozoa yang tidak bergerak (tidak motil) > 50%
 Nilai normal : Vitalitas : > 75%
 Cara Kerja (Sediaan basah) :
• Campur sampel supaya homogen
• Ambil 1 tetes sampel + 1 tetes Eosin 0,5%, aduk rata diatas obyek glass
• Tutup dengan kaca penutup dan biarkan selama 30 detik
• Lihat dibawah mikroskop dengan pembesaran 400X, hitung dalam 200 spermatozoa, kecuali jika jumlah spermatozoa sangat sedikit maka dapat dihitung dalam 100 spermatozoa/hitung sperma dalam seluruh lapang pandang.
• Bedakan sperma yang hidup (tidak berwarna) dengan spermatozoa yang mati (merah/oranye)
 Interpretasi Hasil
• Sperma hidup : kepala spermatozoa tidak berwarna / putih
• Sperma mati : kepala spermatozoa berwarna merah / oranye
 Cara Pelaporan : Tulis prosentasi spermatozoa yang hidup (tidak berwarna). Contoh :
• Jumlah spermatozoa yang hidup = 115 buah
• Total prosentasi = 115 x 100% = 57,5%
200
• Vitalitas/Viabilitas : 57,5%
 Validasi Hasil :
Vitalitas/viabilitas harus ≥ A + B + C . Contoh: A = 5%; B = 20%; C = 20%; D = 55%. Jadi Vitalitas/viabilitas minimal jumlahnya tidak boleh kurang dari A + B + C = 45%

E. MORFOLOGI
 Nilai Normal : > 30%
 Cara Kerja :
• Campur sampel supaya homogen
• Buat apusan sampel di atas obyek glass yang benar-benar bersih dan keringkan di udara (Pembuatan apusan dapat dilakukan bersamaan pada saat meneteskan sample untuk hitung motilitas).
• Buat 2 preparat (untuk duplo ), dengan ketentuan :
 Jika konsentrasi (jumlah) sperma > 20 juta /mL, volume yang dipakai untuk membuat preparat : 5 uL
 Jika konsentrasi (jumlah) sperma < 20 juta /mL, * volume yang dipakai untuk membuat preparat : 10-20 uL • Sediaan yang sudah kering, fixasi dengan metanol p.a • Warnai preparat dengan pewarna Giemsa (pengenceran 1 Giemsa : 9 Aquabidest) selama 15-20 menit. (Keterangan: Modifikasi prosedur dapat dilakukan apabila menggunakan No Katalog/No Lot Reagen yang berbeda dengan melakukan pemantauan /evaluasi terhadap hasil preparat). • Cuci dengan aquabidest, keringkan diudara • Baca dengan pembesaran 1000X • Hitung dalam 200 spermatozoa, kecuali jika jumlah spermatozoa sangat sedikit maka dapat dihitung dalam 100 spermatozoa/ hitung sperma dalam seluruh lapang pandang. • Laporkan morfologi sperma dalam prosentasi.  Validasi Hasil: Untuk memvalidasi hasil pemeriksaan analisa sperma, hal-hal yang dapat dilakukan adalah : • Kekentalan sperma berkorelasi dengan motilitas. Contoh: apabila hasil motilitas sperma untuk A dan B tinggi, maka pada makroskopis sperma tidak mungkin sangat kental atau parameter pH menjadi abnormal. • Bila dalam pemeriksaan Morfologi Sperma ditemukan jumlah Sperma Normal > 30%, ulangi pemeriksaan morfologi untuk memastikan tidak adanya kategori Sperma Abnormal yang dimasukkan/dihitung sebagai kategori Sperma Normal, contoh : bentuk Piri/Lepto dibaca sebagai bentuk
• Normal. Jika ditemukan morfologi sperma yang meragukan/antara Normal dan Abnormal, laporkan sebagai sperma Abnormal.
• Hasil motilitas sangat berkorelasi dengan hasil morfologi sperma, contoh: bila motilitas sperma A+B < 50%, maka tidak mungkin hasil morfologi sperma Normal > 30%.
• Perhitungan vitalitas/viabilitas berkorelasi dengan jumlah motilitas, contoh: untuk hasil motilitas A= 5%, B= 10%, C= 25%, dan D= 60% maka hasil vitalitas/viabilitas tidak boleh kurang dari 40%.
 Interpretasi Hasil
Morfologi (Lihat pada Lampiran)
• Normal : kepala, leher dan ekor memiliki bentuk dan ukuran normal (bentuk lengkap & ukuran normal)
• Abnormal : adanya kelainan pada :
 Bentuk kepala, meliputi : Kepala : besar, kecil, bentuk lisong/taper, bola lampu/round, kepala kembar atau bentuk kombinasi, terato (amorf), pin
 Bentuk leher/bagian tengah, meliputi : Leher dan ekor membentuk sudut lebih besar dari 90ยบ, ketidaksimetrisan dari bagian tengah sampai kepala, bag.tengah tipis, bagian tengah membengkak / irreguler/ bengkok, atau kombinasi dari semuanya.
 Kelainan ekor, meliputi : Ekor pendek, ganda, seperti tusuk rambut, patah, tergulung, lebar tak teratur
 Sisa sitoplasma lebih besar dari 1/3 daerah kepala normal
 Cara Pelaporan :
Tulis prosentasi dari bentuk morfologi spermatozoa Normal dan Abnormal yang dilihat dibawah mikroskop (Lihat HPsL terlampir). Contoh untuk pembacaan sediaan dalam 200 spermatozoa, hasil morfologi :
• Normal : 30 sperma  30 /200 X 100% = 15%
• Abnormal : 170 sperma  170 /200 X 100% = 85%
 Catatan :
• Jumlah morfologi Normal dan Abnormal harus 100%
• Untuk gambar morfologi dapat dilihat pada buku Sperma dari WHO atau CD sperma
• Morfologi spermatozoa Abnormal cukup ditulis pada LKJ atau dapat dimasukkan ke dalam hasil apabila diperlukan/ada permintaan dari dokter, contoh :
 Piri : 60  60 /200 X 100% = 30%
 Lepto : 36  36 /200 X 100% = 18%
 Terato : 26  26 /200 X 100% = 13%
 Macro : 30  30 /200 X 100% = 15%
 Micro : 10  10 /200 X 100% = 5 %
 Double : 4  4 /200 X 100% = 2 %
 Tail defect : 4  4 /200 X 100% = 2 %
 Midpicedefect : 0  0 %
 Cytoplasmicdroplet : 0  0 %
 Total : 85 %
 Keterangan:
• Piri adalah spermatozoa yang mempunyai kepala yang memberi gambarann “tetesan air mata” dengan ujung yang menitik pada midpiece/berbentuk buah pear.
• Lepto adalah kepala kurus, lebar1/2 dari normal, akrosom tak jelas, memberi gambaran cerutu
• Terato adalah bentuk kepala yang ganjil, permukaan tak rata misalnya seperti gitar, kacang tanah dan lain-lain, tidak jelas batas akrosom
• Macro adalah kepala spermatozoa yang berbentuk oval tetapi ukurannya 25% lebih besar dari kepala normal
• Micro adalah kepala spermatozoa yang berbentuk oval tetapi ukurannya 25% lebih kecil dari kepala normal
• Double adalah spermatozoa yang mempunyai kepala lebih dari satu
• Tail defect adalah spermatozoa yang mempunyai ekor pendek (< dari 9x panjang kepala), ekor bentuk spiral/koil, atau ekor ganda • Midpicedefect adalah spermatozoa dengan midpiece gemuk (> dari ½ lebar kepala), panjangnya < dari 2 kali panjang kepala dan tidak satu garis dengan sumbu panjang kepala
• Cytoplasmicdroplet adanya tetesan sitoplasma yang menempel pada kepala atau midpiece
F. LEUKOSIT
Sperma biasanya juga berisi sel-sel bukan spermatozoa seperti leukosit.
 Nilai Normal : < 1 x 106/mL
 Cara Kerja :
• Dilakukan bersamaan pada saat pembacaan morfologi sperma.
• Hitung leukosit dalam juta/mL, dengan rumus :
Jumlah lekosit = N X S
200
N = jumlah leukosit dalam 200 spermatozoa
S = konsentrasi sperma dalam 106/mL
200 = sesuai dengan jumlah spermatozoa yang dibaca pada saat menghitung leukosit, contoh: 200 sperma
 Cara Pelaporan : Sebutkan jumlah leukosit dalam 106/mL. Contoh : Untuk menghitung jumlah leukosit dalam 106/mL
• N = 3 sel leukosit dalam 200 spermatozoa
• S = 45 x 106/mL
• Jumlah leukosit = 3 X 45 X 106 / mL
200
• Leukosit = 0,7 x 106/mL
 Keterangan: Bila ditemukan spermatozoa sangat sedikit, hitung leukosit dapat dilakukan minimal dalam 100 spermatozoa/hitung sperma dalam seluruh lapang pandang.
PERFORMANCE REAGEN: -
INTERFERENSI :
 Volume sample berkurang karena tumpah, cara pengambilan yang salah
 Stabilitas sample
 Kualitas sample berhubungan abstinentia/lamanya puasa
 Kebersihan ruang kerja
 Pembacaan sebelum liquefaksi sempurna
 Kontaminasi sample
 Homogenisasi sample
 Jenis penampungan/wadah sample
 Kualitas dan proses pewarnaan
 Kualitas mikroskop
 Kompetensi Analis

TINDAKAN PENCEGAHAN DAN PERINGATAN : -
FAKTOR KONVERSI : -

NILAI RUJUKAN : Lihat pada masing-masing parameter

INTERPRETASI HASIL :
Penilaian berdasarkan 3 parameter yaitu motilitas, konsentrasi (jumlah), dan morfologi spermatozoa
 Normozoospermia : Motilitas, konsentrasi, dan marfologi spermatozoa dengan hasil normal.
 Oligozoospermia : Konsentrasi spermatozoa < 20 juta/mL
 Asthenozoospermia : Motilitas A dan B < 50% dan atau motilitas A < 25%
 Teratozoospermia : Morfologi sperma normal < 30%
 Oligoasthenoteratozoospermia : Ditemukan kelainan pada ketiga variabel zoospermia, yaitu konsentrasi, motilitas dan morfologi (kombinasi yang terdiri dari 2 kelainan, hanya 2 awalan dapat dipakai), seperti :
• Oligoasthenozoospermia : kelainan dari konsentrasi dan motilitas
• Oligoteratozoospermia : kelainan dari konsentrasi dan morfologi
• Asthenoteratozoospermia : kelainan dari motilitas dan morfologi
 Azoospermia : Tidak ada spermatozoa dalam ejakulat
 Cryptozoospermia : Jika ada spermatozoa yang tersembunyi
 Nekrozoospermia : Jika spermatozoa 100% mati, diam tidak bergerak (None 100% dengan Vitalitas/Viabilitas 0%)

GAMBAR

GAMBAR

Cari Blog Ini